Setelah Reformasi tahun 1998, seringkali kita mendengar studi banding baik dari kalangan anggota DPR maupun Pemerintah yang bertujuan untuk mengkaji dan mempelajari suatu keberhasilan, yang katanya bertujuan untuk melakukan terobosan-terbosan perubahan, namun apa hasil studi banding itu seringkali tidak atau belum terimplementasi.
Liputan Cyber News Gatra dalam tulisan akhir tahun berhasil mewawancari staf perwakilan RI di negeri Jiran yang mengindikasikan adanya peningkatan kunjungan keluar negeri ke Kualalumpur. Tentunya apabila bila kita kaji ke beberapa negara, tentu berapa puluhan ribu orang dalam satu tahun melakukan studi banding ke Luar Negeri.
Seperti diketahui bahwa Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah memudahkan kita untuk mencari informasi yang diperlukan melalui cyber news, namun tidak menyurutkan animo Pejabat Pemerintah untuk melakukan study banding yang terkadang jumlahnya ada 2 - 80 orang, sulit dibedakan antara studi banding dan tour.
Melalu rekan ali topan wartawan tanpa nama, penulis ingin berbagi informasi pada pengunjung MID’s Blog, tentang studi banding tata ruang kawasan ekonomi di China (Beijing), Mekah dan Madinah (Saudi Arabia) dari hasil lawatan pada akhir tahun 2008 dan awal tahun 2009.
Hasil kunjungan singkat pribadi jurnalis ali topan mengindikasikan bahwa ketiga kota tersebut dapat kami sarikan sebagai berikut:
Pertama, penulis melihat bahwa tata ruang kawasan ekononomi di-desing sedemikian rupa sehingga mendatangkan devisa yang luar biasa bagi negara;
Kedua, tata ruang kawasan ekonomi telah mendorong roda perekonomian baik dari berbagai kalangan business dari mulai PKL (pedagang kaki lima) yang tertata apik, sampai pelaku-pelaku binis besar mall, dalam suatu kawasan ekonomi terpadu.
Ketiga, tersedianya transport publik yang murah dan akomodasi murah bagi PKL yang menjajakan souvenir dan jajanan serba ada, hal ini mengundang bukan saja kalangan pembinis, touris asing, juga turis domestik.
Analisis dari studi banding ini, terlihat tata ruang kawasan ekonomi di Beijing, Makkah dan Maddinah telah berkembang dengan baik, yang di-design sedemikian rupa oleh perencana (planner) yang memili pemikiran kewira usahaan (trepreneur ship), yang patut dibanggakan di ketiga kota ini memberikan peluang kepada si kaya dan si miskin untuk mengais sesuap nasi. Pantaslah kalau negara ini tidak banyak terpengaruh terhadap dampak krisis ekonomi global.
Mudah-mudah masukan ini dapat jadikan sebagai bahan pemikiran dan mengurangi kunjungan studi banding yang kurang efektif.
-MID-