Laporan terbuka Study Banding Tata Ruang Kota Beijing
Sunday, March 1st, 2009Baru selang beberapa jam yang lalu penulis atas nama pribadi dan mewakili anggota Dewan dan Asoseasi Pemda Seindonesia melakukan study Banding Tata Ruang Kota Beijing, seusai 7 bulan menyambut Olympiade, 8 Agustus 2008 yang lalu.
Study banding Tata Ruang Perkotaan dilakukan dengan biaya yang sangat murah. Dengan mengendarai sepeda hari ini tgl 1 Maret 2008 penulis melakukan study banding Tata Ruang Perkotaan Kota Beijing, untuk melihat secara langsung bagaimana Pemerintah kota Beijing melakukan benah diri dan pembangunan berkesinambungan.
Sebelum penulis menginjakkan kaki di Kota Beijing tgl 7 Juli 2004, ada dalam alam pikir penulis bahwa China sebagai negara Komunis, kurang ceria dan sangat otoriter, kesan tersebut disebabkan selama penulis bermukim di Kota Praha tahun 1988 - 2003, Negara Eropa Timur yang menganut sistim Pemerintahan Komunis umumnya mengalami kelambatan dalam pembangunan perkotaan maupun perekonomian, karena birokrasinya rapuh dan korup.
Kesan tersebut membuat penulis menjeneralisir pemikiran bahwa di China yang menganut pemerintahan yang sama, berpenduduk kurang lebih 1,3 milyar tidak jauh berbeda dengan kondisi perkotaan di Eropa Timur, hal ini ditandai dengan bangunan-bangunan yang terkesan tua dan kurang terawat. Tidak seperti halnya di Eropa Timur kota Beijing dan sekitarnya ternyata memiliki pengelolaan, penata-kotaan yang baik dan apik.
Selama 4 tahun disaat-saat senggang penulis melihat secara langsung begitu dasyatnya pembangunan kota Beijing menyambut pesta olah raga Olympiade, bahkan bukan hanya kota Beijing kota Jinan dan Dalian yang pertama dan kota kedua dikunjungi penulis terliat banyak tiang pancang pembangunan disana sini dibangun gedung-kedung megah untuk memperindah perkotaan dan meningkatkan hunian layak bagi penduduknya.
Kembali pada hasil study banding yang baru saja dilakukan dan pengembangan pemikiran penulis dari kajian literatur tertulis tentang system-system pemerintahan paska perang dingin dan perestroika thn 1990an, ternyata sistem pemerintahan sangat dipengaruhi oleh Budaya politik manusia dimana ia berada.
Sistem Komunis yang dimotori oleh Mao Che Dung dan diteruskan oleh penerusnya Deng Xio Ping, ternyata lebih cocok dengan budaya Bangsa China dan Ia telah meletakan dasar-dasar pemerintahan komunis yang berhasil untuk generasi China selanjutnya.
Keberhasilan tersebut salah satunya dapat dilihat dan dirasakan saat ini, sebagai contoh dari peninggalan perencana Tata Ruang kota Beijing dan regulasi yang diundangkan dengan baik, sehingga dalam membangun kota dikemudian hari bagi generasi penerusnya tidak mengalami kesulitan untuk membangun perkotaan berkesinambungan dengan efisien dan berprikemanusiaan.
Boleh jadi gerasi tua yang saat ini masih hidup, dapat merasakan perubahan pesatnya pembangunan kota Beijing dan sekitarnya, mereka merasa bangga dan bersyukur Mau Che Dung dan Deng Xio Ping , telah menetapkan konsep dasar-dasar pemerintahan dan pengembangan ekonominya membawa China menjadi negara Super Power yang berhasil saat ini. (Bersambung).
Tahun 2008 ini bakal menjadi Tahun Cina. Pesta Olimpiade–yang direncanakan nyaris sempurna, tanpa pengunjuk rasa, tanpa tunawisma, tanpa pembangkang agama atau perusak suasana macam apa pun lainnya–bakal makin meningkatkan prestise global Cina. Sementara ekonomi Amerika makin terpuruk ke dalam rawa-rawa kredit macet di bidang properti, Cina terus mengalami booming. Gedung-gedung baru yang menjulang tinggi, yang dirancang arsitek-arsitek paling kesohor di dunia, membuat Beijing dan Shanghai menjadi contoh modernitas abad ke-21. Makin banyak warga Cina yang masuk daftar tahunan orang-orang paling kaya di dunia. Dan makin banyak perupa Cina yang karya-karyanya berkibar di balai-balai lelang seni internasional yang membuat iri rekan-rekannya di bagian dunia lainnya.